Ngeblog Salah Satu Pilihan Usaha Industri Rumahan

2 Nov 2015

Beberapa bulan yang lalu ketika saya pulang ke kampung halaman, kurang lebih dua bulan disana, saya dan pemuda-pemuda desa (karang taruna) ngobrolin tentang usaha-usaha yang berbentuk home industry, tujuan kami ingin ada peningkatan kesejahteraan di sektor ekonomi. Terus terang kebanyakan para kepala rumah tangga di desa kami berprofesi sebagai petani padi dan mengurus ternak, dimana penghasilannya pun bisa dikatakan pas-pasan bahkan dibawah standar. Sedangkan ibu-ibu rumah tangga di desa kami rata-rata hanya mengurus rumah tangga dan pergi ke ladang, alhasil setiap harinya mereka tidak memiliki penghasilan.

Kami membicarakan home industry apa yang cocok ditawarkan untuk para IRT (ibu rumah tangga) di desa kami. Biasanya sebuah desa memiliki potensi adat atau hasil bumi yang bisa diberdayakan, tapi ketika kami diskusikan, desa kami tak memiliki hasil bumi dan adat yang potensial untuk diberdayakan.

Mau tidak mau kami berfikir dan mencari ide lain. dan satu-satunya ide yang muncul adalah mengadakan pelatihan pembuatan makanan ringan misalkan kerupuk, keripik, aksesoris hasil daur ulang sampah dan lain sebagainya, dimana bahan bakunya kami sepakat akan mencari dari luar desa kami.

Tapi masalah klise pun muncul, soal pendanaan. Tidaklah sedikit biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan pelatihan dan pengontrolan home industry tersebut. Mungkin bisa saja dananya diambil dari dana desa,tapi kami tahu betul seberapa pun dana yang masuk ke desa pasti prioritas utama desa adalah pembangunan infrastruktur seperti irigasi dan jalan, alhasil pemberdayaan masyarakatnya nihil.

Sampai saya kembali ke jakarta, ide-ide home industry yang pernah kami diskusikan itu menggantung begitu saja, tidak ada pergerakan sama sekali, tidak lain faktor penghambatnya adalah pendanaan.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya jumat, 23 oktober 2015 saya dan beberapa blogger jakarta di undang oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) membahas tentang program prioritas kementrian yakni, Industri Rumahan di Hotel Grand cemara kemang.

Seketika dapat undangan saya langsung meng-iya-kan karena saya tahu akan ada banyak ide yang bisa saya share ke teman-teman di kampung halaman. Apalagi tema yang diangkat adalah Pendayagunaan dan Pemanfaatan TIK terhadap Perkembangan Industri Rumahan. Sepertinya bisa diterapkan di kampung saya. Disamping itu tujuan KPPA menyampaikan program kebijakan strategisnya adalah untuk mengurangi angka kemiskinan, pengangguran dan ketergantungan bekerja di luar negri dengan system Industri Rumahan.

Sebenarnya apa itu Industri Rumahan (IR)? Yakni suatu system produksi yang menghasilkan produk melalui proses nilai tambah dari bahanan baku tertentu yang dikerjakan di lokasi rumah bukan pabrik. Atau lebih singkatnya adalah kerja di rumah.

Dalam program prioritas IR ini KPPA fokus dalam pemanfaatan TIK. Karena seiring berkembangnya saranan teknologi - pemanfaatan bidang ini lebih efisien, ekonomis dan masih bisa dikerjakan oleh target program IR, tidak lain adalah Ibu-ibu cantik urus rumah tangga atau mamah-mamah cantik anter anak atau biasa kaum pria singkat macan ternak (intermezzo).

Ibu Puspitas Zorawar salah satu pembicara dalam seminar ini memberikan porsi penting terhadap pendidikan jika ingin memulai usaha rumahan. Sebab dengan ilmu itu penting dalam dunia usaha, selain dapat melihat peluang pasar dan mencari jaringan usaha juga dapat mengatasi jika usaha yang digeluti sedang tidak sehat. Tapi tidak wajib berpendidikan sih, jika IRT (Ibu Rumah Tangga) nya tidak tamat SD bagaimana? Minimal mau belajar dari senior atau mau mengikuti pelatihan-pelatihan usaha.

Yang tidak kalah penting adalah memanfaatkan TIK sebagai peluang usaha rumahan. Ibu Ani Berta Praktisi Sosial Media menjelaskan, memulai usaha bisa dimulai dengan hobi, dan bagi yang suka hobi menulis atau membuat catatan harian bisa menjadi seorang Blogger. Blogger sendiri adalah para penulis blog atau website pribadi. Apa yang mereka tulis? Untuk mengawalinya (bagi yang awam) bisa menulis catatan hariannya terlebih dahulu, jika sudah terbiasa biasanya isi konten-kontenya akan mengerucut kepada hobi masing-masing, ada yang menulis tentang kuliner, cara memasak, traveling, tracking gunung, review gadget dan lain-lain. Lalu dari mana dapatkan penghasilan ngeblog? Banyak. Bisa mendapatkan jobs review, reportase kegiatan, atau iklan-iklan baik dari perusahaan atau google sendiri.

Disamping itu pemanfatan TIK tidak soal tentang blog saja, tapi masih banyak lagi, seperti berjualan di social media (facebook, twitter dan instagram). Platform-platform social media sekarang sangat efektif untuk berjualan dibanding harus nganvas offline dimana tidak mungkin dilakukan oleh para IRT yang sibuk urus rumah tangga. Dan bagi para IRT yang sering menggunakan gadget untuk bersosial media sudah saatnya memanfaatkan gadget tersebut untuk menambah pundi-pundi penghasilan keluarga.

Kembali ke home industry di kampung saya.

Sebelum menghadiri seminar KPPA saya dan teman-teman kampung hanya fokus ingin membuat ini itu, membuat itu ini dimana ujung-ujungnya mentok di pendanaan. Setelah saya mendapatkan pemaparan industry rumahan dari KPPA saya jadi berfikir ulang, kenapa tidak memanfaatkan gadget mereka toh biayanya tidak mahal, malah banyak yang free karena kuota internet mereka disubsidi suami, hehe.

Simpelnya, Industri Rumahan tidak harus menyetok barang dagang di rumah, dan membuat aneka makanan camilan yang belum tentu akan terjual habis, karena masih ada yang lebih efektif dan efisien yakni memanfaatkan gadget untuk berjualan atau menjadi freelance online.


TAGS KPPA Industri Rumahan Home Industry


Comment
-

Author

Follow Me