Obrolan Santai Tentang Mimpi Bapakku

30 Aug 2014

bGambar ilustrasi - gambar dari abahenely[dot]blogspot[dot]com

Gambar ilustrasi

Mungkin saya termasuk orang yang terlambat baca info mimpi properti, karena barusan habis browsing eh kok landing page nya ke situs ini, dan ditambah liat deadline kontesnya tinggal menghitung jam saja. Tapi ora masalah, karena kebetulan tema kontes mimpi properti-nya sama dengan obrolan saya dengan bapak saya tadi habis maghrib, ngobrolnya tentu tentang masa depan anaknya ini.

“Bapak saranin, selepas kuliah cari rejekinya disini aja. kalau di kampung susah..” bapak menasehati aku dengan nada pelan dan penuh perhatian.

“Nggih, pak..”, balasku sambil menunduk.

“Insyaallah tomi cari kerjanya disini saja pak, sekalian nanti cari rumah juga disekitar sini..”, tambahku sebelum bapak membalas, “jodohnya juga cari disini?”.

Saya hanya bisa mesam-mesem sedangkan bapak tertawa menyindir. Memang saya ndak pernah bawa-bawa pacar (dahulu kala) apalagi mantan ke kontrakan untuk dikenalkan dengan kedua orang tua saya. Saya gak mau dibilang “erak-erek tapi ora mbojo-mbojo” (kesana-kesini pacaran terus tapi tidak nikah-nikah juga). Adat jawa saya memang begitu, kesana-kesini bawa pacar diliat tetangga kanan kiri tapi tidak segera menikah - justru akan menimbulkan banyak fitnah.

Saya tahu betul bapak saya, pertanyaan beliau bukanlah sindiran untuk menyegerakan saya menikah, tapi justru beliau ingin menge-test sikap, pandangan dan apa yang akan saya lakukan selepas kuliah nanti, kemandirian anaknya untuk maju pantang mundur dan bertahan hidup di kota besar jakarta adalah salah satu tujuan bapak saya. Karena selepas kuliah, kedua orang tua saya akan pindah ke kampung halaman, di Magelang. Sedangkan saya…. Harus bisa memperjuangkan hidup sendirian tanpa harus membebani mereka. Itulah kenapa bapak selalu menanamkan nilai-nilai kemandirian kepada saya.

“Agar kamu tidak kesusahan dan uang tidak terbuang sia-sia, kamu cicil rumah sebelum menikah… daripada buat ngontrak mending buat nyicil..” bapak menyarankan lebih spesifik.

“Kenapa dari dulu bapak tidak bikin rumah disini (Jakarta) saja?” aku membalas saran bapak dengan bertanya balik.

Bapak menghela nafas sebelum menjawab pertanyaanku, “Ini yang akan bapak ceritakan kepadamu, nak”.

“Zaman sudah berubah, bapak melihat tantangan besar justru terbebani di pundakmu nak. Tapi sepertinya bapak tidak bisa terus menyokongmu, kamu tahu - bapak semakin menua bukan? Dahulu tahun 80-an rencananya bapak ingin sekali membangun rumah di jakarta karena membangun rumah di jakarta adalah mimpi bapak sejak dulu, waktu itu bapak sudah dapat tanah tinggal dibayar saja, tapi kemudian kakekmu tidak memperbolehkan, bapak disuruh mengurusi tanah milik kakekmu di kampung. Jadilah membangun rumahnya di kampung”

“Lalu apa tantangan besar itu pak?”

“Membangun rumah tak semudah dulu nak. Apa-apa sekarang sudah mahal. Bapak terlalu tua untuk membantu kamu, apalagi harga rumah di jakarta tak ada yang murah. Tapi itu bisa diatasi, siapa yang bisa kerja keras di jakarta maka dia akan cepat menuai hasil termasuk memiliki rumah, sebaliknya - kamu tak akan dapat apa-apa sekalipun itu menabung seratus rupiah, inilah tantangan terbesar kamu”

Saya mendengarkan baik-baik apa yang bapak katakan, berusaha memahami dan mengkoreksi diri, apa yang sudah saya lakukan untuk mempersiapkan mental hidup menghadapi kota keras seperti Jakarta.

Setidaknya dari obrolan sore tadi, saya melihat keseriusan bapak saya membuka tabir hidup anaknya untuk bisa melihat masa depan secara riil dan spesifik. Bukan mengkonsepnya dari teori-teori ekonomi dan menghayal tanpa berbuat.

Rumah adalah bagian terpenting untuk kelangsungan hidup. Di rumahlah semua aktivitas kita lakukan, bekerja, istirahat, bermain, beribadah dan dari rumahlah sumber kenyamanan hidup itu terbangun.

Sebenarnya saya juga paham point penting lainnya dari tantangan besar yang beliau jelaskan, hanya saja beliau tidak menyebutkannya, yakni membangun rumah di jakarta - mengejar mimpi beliau - melanjutkan tongkat mimpi estafetnya. Mimpi yang sudah di inginkannya sejak saya belum lahir.

Untuk bapakku, terima kasih obrolan santainya, insyaallah, saya akan mengejar mimpimu dan mewujudkannya! Amin.

Gambar diambil dari abahenely[dot]blogspot[dot]com

Tulisan ini diikutkan dalam blog kontes mimpi properti. yuk wujudkan mimpimu dengan ikut berpartisipasi disini!


TAGS


-

Author

Follow Me