Simbah adalah sosok Manusia yang sering perhatian, tentunya kepada Cucu-cucunya. Bukan berarti dia gak sayang dengan anak-anaknya atau suaminya tapi memang mendapat gelar sebagai simbah adalah Anugerah yagn tiada terkira dari Tuhan. Tuhan masih memberi Umur yang berkah kepada dia sehingga dia masih bisa melihat sampai mana keturunan dia berakhir di ujung usianya.
Aku adalah cucu yang kelima dari belasan cucu yagn simbah punya. Dari anaknya simbah yang nomor dua dan aku adalah anaknya (jangan bingung hihi) intinya aku cucunyalah!. Dari bayi sampai umur 4 tahunan aku diluar kota Magelang (hiden city) baru mulai masuk SD-SLTA di Magelang dan sekitarnya.
Simbahku adalah seorang Petani dan orang kampung yang serba sederhana, dia lebih suka berkebun dan beternak, bahan-bahan pokok sembako dan sayur-sayuran terkadang tidak sulit untuk didapat, cukup memetik dikebun, simpel dan hemat. Itu yang vegetarian, simbahku kalau mau makan daging dia hanya cukup menyembelih satu ekor enthok (sejenis bebek) atau ayam, mudahkan?
Aku, aku yang sering kerumah simbah, sesering aku kerumah simbah bukan berarti rumahku dekat yang hanya tinggal lima langkah sampai disana?. Rumahku jauh dari rumah simbah, 5 KM. Pertama kali kerumah simbah, aku masih berumur Balita, mungkin waktu bayi pernah tapi tidak ingat. Waktu itu aku diajak jalan kaki, ya jalan kaki, seorang balita yang masih Unyu-unyu (sekarang juga masih unyu-unyu)diajak jalan kaki, why not?!!. Tapi tetep aja banyak minta gendongnya sama ibu, tapi sekarang gak minta gendong kok (malu,sembrono). Karena sering kali aku diajak jalan kaki aku jadi hafal sepanjang jalan menuju rumah simbah.
Aku tadi bilang, mulai dari SD aku di Magelang. Sedangkan kedua orang tuaku di luar kota, mencari nafkah. Dirumah sendiri hanya sama kedua kakakku. Bosan, ya terkadang bosan juga. Lalu kerumah simbahlah aku mencairkan kebosanan itu. Jalan kaki menjadi hal biasa bagiku, 5 KM.
Dirumah simbah, pasti ada-ada aja yang membuatku senang, main kesawahlah, ikut menangkap ayamlah atau hanya merusuhi simbah kakung yang sedang memberi makan enthok sama ayam, hahaha (ya beginilah anak kecil).
eleehh elehhh, tomy datang tow, sama siapa? Jalan kaki? sapa simbahku dengan penuh kasih sayang dan mata cerah penuh kerinduan.
Aku menjawab dengan manja, iya mbah, sendiri jalan kaki, jauhhh banget mbah hehe
eee, eee, eee sini simbah sembelehin ayam, kita masak ayam yuk ajak simbah sambil menggandeng tanganku.
Pakneepaknee iki tomi teko, sembelehke pitek siji! simbah putri memanggil dan menyuruh simbah kakung untuk menyembelih ayam.
Simbah kakung bergegas datang, dan langsung menyapaku oawalahhh cucuku teko, karo sopo le? Yuk milih ayamnya!
Ya, suasana yang seperti ini yang paling aku suka. Kalau kerumah simbah pasti disembelihin ayam, masak ayam di luweng (kompor berbahan bakar dari kayu; dapur-red). Eh dikampung masak ayam udah paling Wah dan istimewa lo. Berbeda kalau di kota, masak ayam udah hal yang biasa. Terlebih memang jatah uang kiriman dari Ortu ke aku dan kedua kakakku terbatas, untuk makan daging saja, ya harus kerumah simbah, walau simbah sendiri juga kesulitan mencukupi kebutuhannya sendiri. Dan aku tahu kalau tidak ada cucu mereka yang datang, ya merka hanya makan sama sayur dan tempe. Simpel.
It is no problem, simbah gak berfikir hitung-hitungan dan gak jadi masalah. Kalau ada cucu datang ya apa aja dilakukan, termasuk menyembelih ayam dan memetik hasil panen kebun, seperti rambutan kalau musim rambutan, jagung, ketela jalar, ketela tanah dan lain-lain ya kalau pas panen aja se.
Satu lagi, aku sering dikasih ampau (pesangon) sama simbah, tidak seberapa se kalau di kurs ke jaman sekarang, dia sering ngasih uang lima ribu kalau gak ya sepuluh ribu, waauuww itu nilai yang sangat besar buatku. Gak hanya uang, terkadang aku disuruh bawa hasil panen kebun dan sawah, ya ketela lah, rambutanlah, beraslah, kelapa mudalah, banyak pokoknya. Tapi aku sering gregetan se waktu disuruh bawa hasil panenan itu, pliss deh mbah, aku pulangnya jalan kaki, gembooorrrr ne kaki bisa-bisa pingsan dijalan suruh bawa-bawaan yang sebanyak itu.
Senang, tentu senang sekali. Terkadang kalau aku gak kerumah simbah, dia yang datang kerumah ku dan membawa banyak kebutuhan makanan. Pokoknya Simbah is wonder women, Simbah is Wonder Man, Simbah is WOMEN HUMANE (asli, ini penulisan bahasa inggrisnya benar apa gak, ngasal ) hahaha.
Beda dulu ya beda sekarang, sekarang simbah lebih tampak tua dan memang kewajibannya menua seiring umurnya. Lansia, ya simbah sudah menyandang lansia. Kemampuan Panca indera dia sudah menurun, mata dan pendengaran. Gerakan tubuh sudah tak lincah seperti dulu lagi, mencangkul pun simbah kakung sudah sering memegangi tulang belakangnya, encok dan pegel linu. Sedangkan simbah putri. Simbah putri sudah tidak banyak berdaya lagi.
Sejak simbah putri jatuh dikamar mandi, dia sudah sulit untuk berjalan, adanya hanya dikamar dan dikamar, giginya sudah tidak bersahabat dan akhirnya diganti dengan gigi palsu. sedih, ya simbah lebih tampak sedih. Beberapa bulan terakhir aku menjenguk simbah, aku berangkat dari Tangerang. Aku disana hanya beberapa jam saja, nyesel se iya, tapi ini tuntutan kuliah dan kerja yang sudah menunggu di Tangerang. senang bukan kepalang, raut wajah simbah sangat ceria. Simbah kakung sudha tak mencangkul lagi dia hanya dirumah saja menjaga kesehatan badannya. Simbah putri terlihat senang sekali ketika aku datangi, dia senyum lebar dari tempat duduk nya di pojokan, seakan senyumnya mau menghampiriku tapi apa daya, simbah lumpuh.
Seperti biasa simbah menanyakan kabar dan kegembiraannya yang tiba-tiba di jengukin oleh si cucunya ini yang dulu sering minta di sembelehin ayam, haha.
Aku menggoda simbah, Mbah kok ceria banget, eeeehhh mbah kok giginya rapat semua, keliatan cantikkkk!
Simbah ketawa terbahak-bahak dan menjawab sambil mengambil gigi palsunya Cantik apaan, nee simbah pakek Gigi palsu!
Seisi rumah simbah tertawa semua, simbah kakung, Bu De, dan bapakku.

Simbah Kakung nan Gagah, Ganteng kayak cucunya ihiirr :D

Simbah Putri, Cantikkk :D

Tadinya mau bergaya Teletubis tapi simbah Uti gak bisa berdiri, Berpelukaaaann :p
Simbah adalah Manusia Paling Penyayang Sedunia, apapun dilakukannya hanya untuk membuat senang cucu-cucunya, tidak lain karena dia bersyukur masih melihat cucu-cucunya dan di anugerahi umur yang panjang oleh Tuhan. Sesalku hari ini adalah aku tak banyak waktu menemani di masa senjanya.
=
=
=
TP: artikel ini di ikut sertakan dalam lomba blog #sukasuka digenksukasuka yang di sponsori oleh bundadesi,kakjuli dan tehani berta


















Senengnya ya masih ada simbah putri dan simbah kakung..
simbahku udah gak ada semua :((
semoga simbahmu sehat2 ya tom..salam
Bahagianya mbah kakung dan mbah putri masih ada ditengah2mu ya Tom
Dan Mbah Kakung masih nampak gagah ya, apalagi mudanya juga mbah putri yg masih ayu.
Aihhh jadi iri aku.
Dan akupun merasakan bahwa nenek selalu kasih segala kasih sayangnya melebihi ibu bapak kita, kini aku cuma punya nenek saja, tp masih bersyukur.
Ceritanya menyentuh.
jangan giut mel, asli gue jadi merinding, itu cuma tinggal dua doang simbahku…. makanya sebenernya gue sedih jauh dari mereka.
Aminnn ya Rabbal ‘alamin… semoga ampek aku punya anak simbahkumasih Sugeng …
merinding mbak,, kalau cerita tentang nenek dan kakek… apalagi saya pernah dikasih wasiat hemmm
semoga simbah putri mbak ani sehat selalu aminnn
manteb si mbahhhh….. #pelukkkkk
asal jangan gue Gan Hahahha
jadi kangen embah dikampung !!!
sama jadi kepengen ikut lombanya om Jay Boana !!!
hayukkk , masih lama kok 30 april
selamat anda beruntung menjadi salah satu pemenang di lomba blog genksukasuka cek disini yah : http://www.genksukasuka.com/2012/05/pengumuman-lomba-blog-genksukasuka.html segera kirim data diri anda, trimakasih